Berawal dari sebuah
catatan di kertas.
Kertas, pulpen, dan harapan.
Di setiap shoot yang aku kerjakan, selalu ada satu momen yang paling bikin deg-degan: pas DIT bilang "eh, card ini udah di-copy belum ya?" Dan tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti.
Yang ada cuma catatan di notes HP, foto whiteboard, atau worst case — tidak ada catatan sama sekali. Semua berjalan dari ingatan dan kepercayaan. Kadang berhasil, kadang... ya, kamu tahu lah jadinya.
Setelah satu malam yang panjang di Day Zero.
Waktu itu aku lagi handle media management di sebuah event musik besar di Bali. Multi-kamera, multi-artist, multi-stage. Crew berlarian, card masuk keluar terus, dan aku harus track semuanya manual.
Pulang jam 3 pagi, mata sepet, sambil lihat spreadsheet yang berantakan — aku pikir: harus ada cara yang lebih baik dari ini. Kalau sistem transfer bisa semi-otomatis, kenapa log-nya masih manual?
Satu file HTML, satu mimpi besar.
Aku bukan developer profesional. Tapi cukup tahu cara bikin sesuatu jalan. Mulai dari single-page HTML sederhana, backend Supabase, deploy di Cloudflare Pages — dan pelan-pelan fiturnya nambah sesuai kebutuhan nyata di lapangan.
Yang paling aku utamakan: harus cepat diisi, tidak perlu training, dan bisa dibuka dari HP manapun di tengah chaos-nya produksi. Tidak ada install, tidak ada login yang ribet.
Sudah dipakai. Sudah terbukti.
MediaTrack sudah digunakan di real event — dari wedding production sampai festival musik berskala besar. Tim bisa log transfer dalam hitungan detik, semua tercatat dengan siapa, kapan, dari kamera mana, ke storage mana.
Dan yang paling bikin aku senang? Tidak ada lagi pertanyaan "card ini udah di-copy belum?" — semua orang tinggal buka dashboard, dan jawabannya langsung ada di sana.